sekarang saya analogikan boneka itu sebagai kamu.
saya mau tonjok-tonjok, tendang-tendang, injek-injek.
saya tampar-tamparin, saya jedot-jedotin ke lantai.
saya caci maki. terus saya tusuk-tusuk pakai pisau.
saya gigit-gigit sampai tercabik cabik, terus saya gantung sampai lehernya patah.
abis itu...
saya ambil lagi dari lantai...
saya jahit, dan saya bersihkan
saya beri busa yang baru, saya elus elus lalu saya peluk.
saya bisikin, "jangan bandel lagi yah. jaga diri baik-baik dan jangan nakal."
terus boneka itu saya taruh di rak, di alasi dengan kain yang paling bagus.
saya tutup kacanya, lalu saya tinggalkan boneka itu sambil tersenyum dan meminum secangkir teh hangat di teras rumah.
terus bonekanya saya lempar. Tamatlah riwayat boneka itu. selamat tinggal.
saya mau tonjok-tonjok, tendang-tendang, injek-injek.
saya tampar-tamparin, saya jedot-jedotin ke lantai.
saya caci maki. terus saya tusuk-tusuk pakai pisau.
saya gigit-gigit sampai tercabik cabik, terus saya gantung sampai lehernya patah.
abis itu...
saya ambil lagi dari lantai...
saya jahit, dan saya bersihkan
saya beri busa yang baru, saya elus elus lalu saya peluk.
saya bisikin, "jangan bandel lagi yah. jaga diri baik-baik dan jangan nakal."
terus boneka itu saya taruh di rak, di alasi dengan kain yang paling bagus.
saya tutup kacanya, lalu saya tinggalkan boneka itu sambil tersenyum dan meminum secangkir teh hangat di teras rumah.
terus bonekanya saya lempar. Tamatlah riwayat boneka itu. selamat tinggal.


